Rabu, 12 Februari 2014

psikologi pembelajaran Matematika menurut : Thorndike, Skinner, Ausubel. Gagne.


DAFTAR ISI
Kata pengantar ..........................................................................................................      
Daftar isi ...................................................................................................................      
Bab 1 : Pendahuluan .................................................................................................      
A.    Latar Belakang Masalah ............................................................................      
B.     Rumusan Masalah ......................................................................................      
C.     Tujuan Masalah ..........................................................................................      

Bab 2 : Pembahasan ..................................................................................................      
a.          Psikologi pembelajaran menurut Thorndike..............................................
b.         Psikologi pembelajaran menurut Skinner
c.          Psikologi pembelajaran menurut Ausubel
d.         Psikologi pembelajaran menurut Gagne
Bab 3 : Penutup ........................................................................................................
·         Kesimpulan ................................................................................................












BAB I
PENDAHULUAN

A.          Latar Belakang

Pada  umumnya  persepsi  siswa  terhadap  pelajaran  matematika  dirasakan sukar dan tidak tampak kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Namun  juga terdapat beberapa  siswa  yang  sangat  menikmati  keasyikan  bermain  dengan matematika, mengagumi keindahan matematika dan tertantang ingin memecahkan setiap  soal  matematika.  Kedua  persepsi  ini  pasti  ada  dalam  pendidikan matematika  di  mana-mana.  Yang  menjadi  masalah  adalah  persepsi  negatif terhadap pelajaran matematika sangat banyak terdengar. Persepsi negatif ini, mungkin saja berasal  dari porsi materi matematikanya terlalu  banyak  dan    tidak  sesuai  dengan  tingkat  perkembangan  intelektual  siswa; bahkan mungkin berasal  dari strategi pembelajarannya yang kurang menarik bagi siswa.  Namun  kita  harus  selalu  berusaha  membangun  persepsi positif terhadap pelajaran matematika. ( dikutip dari buku “Pokok-pokok Pengajaran Matematika di Sekolah” oleh Muhamad Sholeh)
Untuk membangun porsi persepsi positif agar lebih banyak daripada persepsi negative tentunya bukan perkara yang mudah dan bukan perkara yang tidak mungkin. Diperlukan strategi khusus bagi guru atau pengajar matematika tentang bagaimana menyajikan matematika secara menarik bagi murid, diantaranya dengan meminimalisir kesulitan belajar siswa dalam matematika. (Sabri : 1995) mengemukakan bahwa kesulitan belajar adalah kesukaran siswa dalam menerima atau menyerap pelajaran disekolah, kesulitan belajar yang dihadapi oleh siswa terjadi pada waktu mengikuti pelajaran yang disampaikan atau ditugaskan oleh guru. Diperkuat oleh pemaparan Herman Hudojo (1983:200) dalam salah satu jurnal milik Edi Prajitno dkk (2002:68), menyatakan bahwa kesulitan belajar merupakan gejala yang Nampak dalam berbagai jenis manifestasi.
Maka bukan suatu hal yang aneh jika banyak ilmuan yang telah menemukan teori belajar diantaranya adalah teori belajar dari Thorndike, Skinner, Ausubel. Gagne, yang akan kami bahas dalam maklah ini.


B.           Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakng tersebut, rumusan masalah yang kami buat adalah:
1.            Bagaiman teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ?
2.            Bagaiman teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner ?
3.            Bagaiman teori belajar yang dikemukakan oleh Ausubel ?
4.            Bagaiman teori belajar yang dikemukakan oleh Gagne ?


C.          Tujuan Masalah
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.            Untuk mengetahui dan memahami teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike
2.            Untuk mengetahui dan memahami teori belajar yang dikemukakan oleh Skinner
3.            Untuk mengetahui dan memahami teori belajar yang dikemukakan oleh Ausubel
4.            Untuk mengetahui dan memahami teori belajar yang dikemukakan oleh Gagne














BAB II
PEMBAHASAN

A.     Psikologi pembelajaran menurut Thorndike
Menurut Thorndike, belajar adalah proses interaksi antara stimulus dan respon (Muhibbin : 2007). Stimulus  yaitu apa saja dapat merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan atau hal-hal lain yang dapat diterapkan melalui alat indera, sedangkan respon yaitu reaksi yang dimunculkan peserta didik ketika belajar, yang juga dapat berupa pikiran, perasaan atau gerakan/tindakan. Stimulus dan respon merupakan upaya secara metodologis untuk mengaktifkan siswa secara utuh dan menyeluruh baik pikiran, perasaan dan perilaku (perbuatan). Salah satu indikadasi keberhasilan belajar terletak pada kualitas respon yang dilakukan siswa terhadap stimulus yang diterima dari guru.
Belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori “conectionisme”. Atau dengan kata lain, belajar adalah pembentukan atau penguatan hubungan antara S (stimulus) dan R (respon, sambutan). Hubungan S-R ( Stimilus-Respon ) atau antara kesan indera (sense impression) dan impuls (dorongan spontan) untuk bertindak (impuls to action) disebut “bond” atau “connection” atau “association”. Karena itulah maka teori ini disebut “connectionis” atau “bond psikologi”. Menurut Thorndike, asosiasi itu membentuk sebagian besar, meskipun bukan seluruhnya, apa yang di pelajari dan diingat oleh manusia .Teori ini disebut juga dengan “trial and error learning” (belajar dengan cara coba salah) atau “learning by selecting and connecting” (belajar dengan menyaring dan menghubungkan). Menurut teori ini, belajar dilakukan dengan cara menyaring atau memilih respons yang tepat terhadap stimulus tertentu ( Muhammad : 2004 ).
  • Hukum-hukum Teori Koneksionisme Edward Lee Thorndike
Adapun hukum – hukun teori Koneksionisme Edward Lee Thorndike  yang ditulis oleh Stephen Tomlinson (Edward Lee Thorndike and John Dewey on the Science of Education, 1997) adalah :
  1. Hukum kesiapan (law of readiness), hukum ini pada intinya menyatakan bahwa belajar akan berhasil apabila peserta didik benar-benar telah siap untuk belajar. Dengan perkataan lain, apabila suatu materi pelajaran diajarkan kepada anak yang belum siap untuk mempelajari materi tersebut maka tidak akan ada hasilnya.
  2. Hukum latihan (law of exercise), yaitu apabila ikatan antara stimulus dan respon lebih sering terjadi, maka ikatan itu akan terbentuk semakin kuat. Interpretasi dari hukum ini adalah semakin sering suatu pengetahuan dan pengalaman yang  telah terbentuk akibat terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon yang terus-terus dilatihkan, maka  ikatan tersebut akan semakin kuat. Jadi, hukum ini menunjukkan prinsip utama belajar adalah pengulangan. Semakin sering suatu materi pelajaran diulangi maka materi pelajaran tersebut akan semakin kuat tersimpan dalam ingatan (memori).
  3. Hukum akibat (law of effect), yaitu apabila asosiasi yang terbentuk antara stimulus dan respon diikuti oleh suatu kepuasan maka asosiasi akan semakin meningkat. Hal  ini berarti,  jika suatu respon yang diberikan oleh seseorang terhadap suatu stimulus adalah benar dan ia mengetahuinya, maka kepuasan akan tercapai dan asosiasi akan diperkuat.
  • Aplikasi Teori Koneksionisme Edward Lee Thorndike dalam Pembelajaran Matematika
Implikasi Teori Throndike pada pembelajarn dikelas yang dikutip dari buku Psichology of Learning adalah :
1)      Guru harus tahu, bahwa siswa lebih minat belajar ketika mereka merasa berkebutuhan dan berkepentingan pada pelajaran tersebut. maka guru harus memastikan bahwa kegiatan belajar tersebut penting bagi siswa.
2)      Kesiapan merupakan prasyarat untuk belajar, karena itu guru disarankan untuk mempertimbangkan kemampuan mental atau kognitif peserta didik ketika merencanakan kurikulum atau isi instruksional.
3)      Guru harus menyadari fakta bahwa siswa ingin mengulangi tindakan yang mereka terima sebagai hal positif. Oleh karena itu, guru harus selalu menggunakan berbagai strategi motivasi untuk mempertahankan minat belajar siswa di kelas.
4)      Guru harus selalu meghadirkan bahan secara logis dan cara yang lebih koheren. Ini adalah cara utama menangkap dan mempertahankan kepentingan peserta didik dalam kegiatan pedagogis.

B.     Psikologi pembelajaran menurut Skinner
Menurut pandangan B. F. Skinner (1958), belajar merupakan suatu proses atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progressif. Pengertian belajar ialah suatu perubahan dalam kemungkinan atau peluang terjadinya respons. Skiner berpendapat bahwa ganjaran (reward) yang bersifat mendidik merupakan salah satu unsur yang penting dalam proses belajar, hanya istilahnya perlu diganti dengan penguatan. Ganjaran adalah sesuatu yang menggembirakan, sedangkan penguatan adalah sesuatu yang mengakibatkan meningkatkatnya suatu respon tertentu. Penguatan tidak selalu hal yang menggembirakan, tetapi bisa juga sebaliknya.
  • Teori skinner
Ø  Teori pengkondisian operan
 Untuk memahami pengkondisian operan, kita perlu membedakan apa yang disebut Skinner  dengan perilaku respon dan perilaku operan. Perilaku respon adalah respon langsung pada stimulus, seperti akomodasi biji mata sebagai respon pada kilatan cahaya, hentakan kaki sebagai respon pada pukulan di tempurung lutut. Sebaliknya, perilaku operan dikendalikan oleh akibat dari perilaku respon. Bila akibat dari perilaku respon tersebut positif, maka kita cenderung mengulangi perilaku tersebut, sebaliknya bila akibat dari perilaku respon tersebut negatif, maka kita cenderung tidak mengulanginya. Jadi proses belajar dengan pengkondisian operan adalah proses pengontrolan tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relatif bebas.
  • Aplikasi Teori Skinner Terhadap Pembelajaran Matematika
Seorang siswa diberi soal matematika sederhana dan siswa dapat menyelesaikannya sendiri. Guru memuji siswa karena telah berhasil menyelesaikan soal tersebut. Dengan peristiwa ini siswa merasa yakin atas kemampuannya, sehingga timbul respon mempelajari pelajaran berikutnya yang sesuai atau lanjutan apa yang dapat dia selesaikan tadi. Selanjutnya dikatakan bahwa pada umumnya stimulus yang demikian pada umumnya mendahului respon yang ditimbulkan. Belajar dengan respondent conditioning ini hanya efektif jika suatu respon timbul karena kehadiran stimulus tertentu.


C.    Psikologi pembelajaran menurut Ausubel
David Ausubel adalah seorang ahli psikologi pendidikan yang terkenal dengan teori belajar bermakna (meaningfull). Ausubel (Tim MKPBM, 2001 : 35) membedakan antara belajar menemukan dengan belajar menerima. Pada belajar menerima siswa hanya menerima, jadi tinggal menghafalkannya, tetapi pada belajar menemukan konsep ditemukan oleh siswa, jadi tidak menerima pelajaran begitu saja.
Menurut Ausubel (Dahar, 1996 : 112) pembelajaran bermakna merupakan suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang. Struktur kognitif meliputi fakta-fakta, konsep-konsep, dan generalisasi-generalisasi yang telah dipelajari dan diingat siswa.
Faktor-faktor utama yang mempengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Pembelajaran bermakna terjadi apabila seseorang belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam struktur pengetahuan mereka. Dalam proses belajar seseorang mengkonstruksi apa yang telah ia pelajari dan mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru ke dalam struktur pengetahuan mereka
  • Teori Ausubel
Ø  Teori Belajar Bermakna
Teori Belajar Bermakna Ausubel sangat dekat dengan Konstruktivisme. Keduanya menekankan pentingnya pelajar mengasosiasikan pengalaman, fenomena, dan fakta-fakta baru kedalam sistem pengertian yang telah dipunyai. Keduanya menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru kedalam konsep atau pengertian yang sudah dipunyai siswa. Keduanya mengandaikan bahwa dalam proses belajar itu siswa aktif.
Ausubel berpendapat bahwa guru harus dapat mengembangkan potensi kognitif siswa melalui proses belajar yang bermakna. Sama seperti Bruner dan Gagne, Ausubel beranggapan bahwa aktivitas belajar siswa, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar, akan bermanfaat kalau mereka banyak dilibatkan dalam kegiatan langsung. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.
  • Aplikasi Teori Ausubel Terhadap Pembelajaran Matematika
Dalam pembelajaran matematika siswa akan lebih baik jika siswa tersebut dilibatkan langsung dalam pembelajaran, terutama mereka yang berada di tingkat pendidikan dasar. Namun untuk siswa pada tingkat pendidikan lebih tinggi, maka kegiatan langsung akan menyita banyak waktu. Untuk mereka, menurut Ausubel, lebih efektif kalau guru menggunakan penjelasan, peta konsep, demonstrasi, diagram, dan ilustrasi.

D.    Psikologi pembelajaran menurut Gagne
Menurut Gagne (dalam Hudojo, 1988: 19), belajar merupakan proses yang memungkinkan manusia memodifikasi tingkah lakunya secara permanen, sedemikian hingga modifikasi yang sama tidak akan terjadi lagi pada situasi baru. Pengamat akan mengetahui tentang terjadinya proses belajar pada diri orang yang diamati bila pengamat itu memperhatikan terjadinya perubahan tingkah laku. Gagne berpendapat bahwa kematangan bukanlah belajar, sebab perubahan tingkah laku yang terjadi, dihasilkan dari pertumbuhan struktur dalam diri manusia itu. Dengan demikian, belajar terjadi bila individu merespon terhadap stimulus yang datangnya dari luar, sedang kematangan datangnya memang dari dalam diri orang itu. Perubahan tingkah laku yang tetap sebagai hasil belajar harus terjadi bila orang  itu berinteraksi dengan lingkungan.
  • Teori Belajar Menurut Robert M. Gagne 
Sebagaimana tokoh-tokoh lainnya dalam psikologi pembelajaran, Gagne berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh pertumbuhan dan lingkungan, namun yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan individu seseorang. Lingkungan indiviu seseorang meliputi lingkungan rumah, geografis, sekolah, dan berbagai lingkungan sosial. Berbagai lingkungan itulah yang akan menentukan apa yang akan dipelajari oleh seseorang dan selanjutnya akan menentukan akan menjadi apa ia nantinya.




  • Aplikasi Teori Gagne terhadap Pembelajaran Matematika
Karakteristik materi matematika yang berjenjang (hirarkis) memerlukan cara belajar yang berjenjang pula. Untuk memahami suatu konsep dan/atau rumus matematika yang lebih tinggi, diperlukan pemahaman yang memadai terhadap konsep dan/atau rumus yang ada di bawahnya, dalam hal ini guru sangat berperan dalam proses pembelajaran.


























BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1. Teori Thorndike
Teori belajar stimulus-respon yang dikemukakan oleh Thorndike disebut juga dengan koneksionisme. Teori ini menyatakan bahwa pada hakikatnya belajar merupakan proses pembentukkan hubungan antara stimulus dan respon.
Terdapat beberapa dalil atau hukum kesiapan (lawofreadiness), hukum latihan(lawofexercise) dan hukum akibat(lawofeffect).
2. Teori Skinner
·         Teori pengkondisian operan
Pengkondisian operan adalah proses pengontrolan tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan yang relatif bebas.
3. Teori Ausubel
·         Teori Belajar Bermakna
Belajar bermakna lebih dilakukan dengan metode penemuan (discovery). Namun demikian, metode ceramah (ekspositori) bisa juga menjadi belajar bermakna jika berlajarnya dikaitkan dengan permasalahan kehidupan sehari-hari, tidak hanya sampai pada tahap hapalan; bahan pelajaran harus cocok dengan kemampuan siswa dan sesuai dengan struktur kognitif siswa
4.   Teori Gagne
Gagne berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh pertumbuhan dan lingkungan, namun yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan individu seseorang.






Daftar pustaka





Rabu, 19 Juni 2013

peran penting PGRI dalam peningkatan mutu pendidikan


MAKALAH
Peran Penting PGRI dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di Era Otonomi Daerah
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Materi Kuliah ke PGRI-an

STKIP


OLEH :

MOH ARIF
                              :                             

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
STKIP PGRI SUMENEP
TAHUN PELAJARAN 2012-2013



KATA PENGANTAR


               Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT.karena atas segala limpahan taufik dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Peran Penting  PGRI dalam Peningkatan Mutu Pendidikan di Era Otonomi Daerah” dalam bentuk sederhana.
Salawat dan Salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad SAW. Nabi Sebagai suri tauladan dalam kehidupan sehari-hari.
Penulis menyadari segala kekurangan dan keterbatasan kemampuan yang penulis miliki dalam penyelesaian makalah ini. Oleh karena itu, kami mengharapkan kritik dan saran dari semua pihak demi kebaikan dan kesempurnaan makalah ini sehingga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Dengan segala kerendahan hati kami haturkan ucapan terimah kasih yang setulus-tulusnya kepada bapak/ ibu dosen yang bersangkutan mengajar mata kuliah Psikologi Pendidikan  yang dengan ikhlas membagi pengetahuan dan bimbingannya kepada kami.
Akhirnya kepada Allah SWT. Kami serahkan segalanya, semoga bermanfaat bagi kita semua. Amin!



                                                                                    Penulis









DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.............................................................................................i
DAFTAR ISI..........................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang..........................................................................................................
B.  Rumusan Masalah.....................................................................................................
C.  Tujuan Masalah.........................................................................................................
BAB II PEMBAHASAN
A.    PGRI sebagai Organisasi Profesi……………………………………………...............
B.     Tujuan dan tanggung jawab PGRI sebagai organisasi Profesi……………………….
C.     PGRI sebagai organisasi perjuangan …………………………………………………
D.    Prinsip-prinsip dan strategi perjuangan PGRI ……………………………………….
E.     Peran yang diemban PGRI ……………………….…………………………………..
a.       Sebagai organisasi perjuangan ………………………………………………
b.      Sebagai organisasi profesi …………………………………………...............
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA